Lala menatap Lynx dengan penuh amarah. "Lynx, lihat dia Narendra. Dia rekan kita dia penduduk Surya. Kenapa kamu harus menyerang dengan serius? Sekarang kau sudah membunuh salah satu keluarga kita.!" Lala berkata sambil menangis. Lala lupa bahwa Lynx hanya membela diri karena pria yang menyerangnya datang dengan niat membunuh yang sangat kuat.

"Narendra, aku sudah bilang jangan lakukan itu, tapi kamu masih ingin melepaskan rindu kepadanya dengan cara ini. Sekarang justru kamu mati di tangannya," Jelita menangis dengan sangat sedih. Awalnya dia berpikir pertemuan Lynx dan Narendra akan menghasilkan momen yang mengharukan, namun justru yang terjadi sebaliknya.

"Ternyata itu kamu ya, Narendra. Hebat juga bisa menjadi master foundation dengan cepat, mengalahkan Lala dan Kael dari sisi ranah kultivasi," kata Lynx dengan nada tenang. Tidak ada sedikit pun penyesalan dalam kata-katanya. Bahkan terlihat kesan menertawakan.

Matanya yang tajam menatap ke arah Narendra, sebelum akhirnya ia mengangkat bahu dan berkata santai, "Dimana salahku. Salah sendiri dia menyerangku sepenuh hati dengan niat membunuh."

Lala semakin berang. "Kau bahkan tidak peduli?! Ini Narendra! Dia teman kita, Lynx! Apa kau sudah kehilangan hati nuranimu?!"

Alih-alih menjawab, Lynx malah tersenyum tipis dan perlahan mendekati tubuh Narendra. Dengan tenang, ia menotok beberapa titik di tubuh pria itu, lalu mengeluarkan sebuah jarum akupuntur yang ditusukkannya di salah satu bagian tubuh Narendra untuk membuatnya terlihat seolah sudah tidak bernyawa.

Dalam beberapa detik,

Hup!

Narendra tiba-tiba terbatuk, matanya terbuka lebar.

Semua orang terbelalak.

"Apa yang terjadi?! Bagaimana bisa…?" Jelita menatap Narendra dengan kebingungan.

Lala masih tampak tidak percaya. "Kau… Kau masih hidup?"

Lynx menyilangkan tangan, menyunggingkan senyum tipis. "Apa kamu pikir aku akan terkecoh dengan hal seperti ini, ya?"

Semua menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

Lynx menghela napas, lalu berkata, "Sejak awal aku sudah curiga. Kalau ini benar-benar serangan pembunuhan, kenapa kalian semua begitu tenang? Tidak ada satu pun dari kalian yang menunjukkan rasa takut. Itu aneh. Aku yakin kalian menyembunyikan sesuatu."

Jelita dan Lala terdiam, wajah mereka menunjukkan campuran emosi antara marah dan malu.

"Tapi aku tidak hanya menebak," lanjut Lynx. "Aku memperhatikan sosoknya yang terlihat tidak asing. Setelah mengingat kata Arkha jika hanya Rira yang belum di temukan, aku yakin jika bukan Darek pasti Narendra. Begitu aku memastikan ini Narendra, aku hanya mengikuti permainan kalian. Saat dia menyerang, aku menotok titik tertentu di tubuhnya dan menggunakan akupuntur untuk membuatnya tampak seperti mati."

Jelita dan Lala langsung mendengus kesal.

"Kau mempermainkan kami?!" bentak Lala.

"Kau benar-benar kejam!" tambah Jelita.

Namun sebelum mereka bisa melanjutkan amarah mereka, Narendra tiba-tiba bergerak maju dan langsung memeluk Lynx erat.

"Aku merindukanmu, Guru…"

Lynx terdiam sesaat, sebelum akhirnya menghela napas dan menepuk bahu Narendra. "Sudah lama tidak bertemu, bocah."

Semua orang di ruangan itu masih bingung—antara lega dan kesal.

Setelah beberapa saat, Lynx menatap Narendra dengan mata tajam. "Bagaimana bisa kau mencapai Master Foundation dalam tiga tahun? Bahkan kau lebih kuat dari Lala dan Kael sekarang."

Narendra menghela napas panjang. "Ini… bukan sesuatu yang aku inginkan," katanya dengan nada muram.

Ruangan itu kembali hening, menunggu kelanjutan ceritanya.

Narendra mengisahkan pengalaman pahitnya. "Setelah kita muncul di dunia ini, kita terpencar. Tapi aku muncul di dunia ini bersama Darek dan kami kebingungan harus kemana. Kami tidak menemukan kalian atau penduduk Surya lainnya."

Lynx yang mendengar nama Darek disebut menjadi bersemangat. Dia ingat bagaimana Darek berjuang bersamanya melawan para perampok untuk menyelamatkan penduduk Yaksa yang ditangkap kawanan perampok untuk di serahkan ke Monrest.

Narendra melanjutkan ceritanya setelah menarik napas sejenak. Dia menguatkan dirinya untuk bercerita."Kami mendengar suara ledakan dan mendatangi tempat itu, berharap menemukan kalian. Tetapi ternyata aku menemukan dua orang pria sedang bertarung. Aku tidak tahu mereka ada diranah apa karena tidak paham sebelumnya. Namun salah satu pria tersebut terluka parah dan dia mengatakan lawannya curang karena menggunakan racun untuk melemahkannya. Saat pria tua itu terjatuh, aku melihat pria satunya ingin membunuhnya, sehingga aku berusaha menolongnya."

Narendra tiba-tiba menjadi ragu untuk melanjutkan ceritanya. Jelita segera mendesaknya."Lanjutkan Narendra. Di jalan kamu tidak mau menceritakannya karena ingin menceritakan setelah bertemu kepala suku."

Dengan wajah sedih, Narendra berkata,"Karena marah, pria tua itu menyerangku dan Darek tewas karena menyelamatkanku."

Keheningan menyelimuti ruangan. Lala menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. Arkha dan Kael menunduk, tak mampu berkata-kata.

Lynx terdiam cukup lama, sebelum akhirnya tersenyum tipis—meski ada kesedihan yang terselip di matanya. "Darek… Dia orang baik. Kami pernah bekerja sama saat melawan para perampok saat kita di pulau. Dia berusaha menyelamatkan adiknya, Alana, namun gagal. Kini mereka sudah bersatu di alam lain."

Lynx memperhatikan wajah Arkha yang terlihat sedih karena tanpa sengaja Lynx menyebut nama Alana, mantan tunangannya.

"Aku belum sempat membalas kebaikannya. Meski bahaya dia tetap membantu menyelamatkanku, ayahku dan semua kerabatku di suku Yaksa yang ditangkap perampok tersebut."

Narendra tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu Lynx dan Jelita memiliki banyak kenangan di masa lalu bersama Darek.

Lala menghela napas panjang, dia tidak ingin mereka terbawa suasana berduka terlalu lama. Segera dia mengalihkan pembicaraan setelah mencoba menenangkan emosinya, dan akhirnya berkata, "Bagaimana dengan barang yang kalian dapatkan? Karena barang itu, kalian menjadi incaran banyak pembunuh yang menginginkannya."

Kael tersenyum tipis, lalu melirik Lynx. "Lynx yang membawanya."

Lynx mengernyit. "Aku? Aku tidak membawa apa-apa."

Namun tiba-tiba, sesuatu melintas dalam benaknya. Ia menoleh ke Arkha. "Apakah maksudmu… sabuk ini?"

Arkha menggeleng samar. "Tidak sepenuhnya benar."

Lala menatap sabuk yang dikenakan Lynx, matanya membesar. "Itu…"

Lynx menatapnya dengan bingung.

"Itu bukankah sabuk yang aku buatkan untuk Kael? Untuk latihanku membuat artefak." kata Lala dengan bangga. "Dan sekarang kau memakainya!"

Lynx hanya mengangkat bahu. "Kamu memang hebat Lala, pantas di sebut profesor. Mau dimanapun kamu berada, pasti tidak berhenti untuk belajar dan mencoba. Kamu tahu, pakaian ini sangat nyaman digunakan, pantas Kael menggunakan pakaian ini saat dipulau."

"Tentu saja, ini pakaian berteknologi tinggi dan seharusnya ada banyak perlengkapan seandainya Lala tidak merusak dan melepaskan semuanya karena dia bilang rumit untuk membuatnya langsung terpasang." kata Kael dengan nada menyindir.

"Huh, peralatanmu sudah rusak semua. Tidak ada gunanya dan menjadi beban." kata Lala membalas tidak mau kalah.

Lynx hanya tersenyum melihat perdebatan mereka. Bagaimanapun dia bersyukur, Kael yang awalnya adalah lawan kita menjadi kawan, bahkan berkat Kael, rekan-rekan mereka mulai terkumpul.

Arkha kemudian melangkah maju. "Lynx, ubah penampilanmu."

Tanpa ragu, Lynx mengalirkan energi ke sabuknya. Seketika, tubuhnya dilapisi baju tempur hitam pekat yang tampak seperti logam, tetapi fleksibel. Helm muncul, menutupi wajahnya sepenuhnya, hanya menyisakan cahaya biru redup dari visor.

Jelita ternganga. "Luar biasa… ini beneran buatanmu Lala?"

Lala membusungkan dadanya dengan bangga."Tentu saja, siapa dulu dong... Lala." katanya dengan bangga.

"Aku tidak sabar membayangkan jika kemampuan artefak ini digabung dengan teknologi, pasti akan menjadi sebuah kemampuan yang sangat luar biasa." Mata Lala terlihat berbinar saat memikirkan rencananya.

"Aku belum pernah menemukan orang sejenius Lala dalam membuat artefak. Tangannya terampil." Puji Zhen Huan tulus.

"Aku percaya, profesor Lala pasti bisa melakukan hal tersebut dan menggunakannya untuk kebaikan." Kata Lynx memuji sekaligus mengingatkan agar tidak disalahgunakan.

Kael lalu mendekat, menyentuh baju tempur itu, lalu dengan santai mengeluarkan sebuah kantung penyimpanan yang dia sembunyikan di balik pakaian Lynx, kemudian menarik sesuatu dari dalam kantong penyimpanan tersebut—sebuah gulungan kertas yang terlihat kusam dimakan waktu.

"Jadi itu sebabnya kalian bisa bersikap tenang dan santai, karena benda ini sudah pasti tidak akan ada orang yang bisa mendapatkannya kecuali mampu mengalahkan Lynx?" kata Lala sambil menghela napas.

